Ya, sudah seharusnya saya belajar untuk lebih memahami antara kebetulan dan takdir. Kebetulan yang terkadang datang dengan berbagai alasan, tetap ada atau tiada setelahnya. Menyambut hangat sukanya, serta melapangkan dada terhadap duka yang bisa saja dibawanya. Kebetulan yang memang dihadirkan untuk menyadarkan, untuk menatap hidup tidak hanya sebatas langit-langit kamar. Sedangkan takdir, sepertinya sesuatu yang sulit untuk saya tebak. Sejauh apapun saya berlari pada apa yang dinamai takdir, garis akhirnya hanya dipertemukan dengannya kembali. Bukan semesta tidak menyetujui apa yang telah saya siapkan, terkadang memang selalu ada persimpangan yang lebih baik ditiap titik kebuntuan. Terlebih saya harus menyadari bahwa apa yang saya inginkan belum tentu saya butuhkan. Dan satu-satunya cara untuk membuat takdir itu istimewa, tiada lain yaitu berprasangka baik untuk sesuatu yang belum sepenuhnya kita lihat.